Tampilkan postingan dengan label KMB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KMB. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juni 2014

PNEUMOTORAKS




I.                   PENGERTIAN PNEUMOTORAKS

 Pneumotorax adalah adanya udara dalam rongga pleura. Pneumothorax dapat terjadi secara spontan atau karena trauma (British Thoracic Society 2003).
Tension pneumothorax disebabkan karena  tekanan positif pada saat udara masuk ke pleura pada saat inspirasi. Pneumothorax dapat menyebabkan cardiorespiratory distress dan cardiac arrest.
Pneumothorax ialah didapatkannya udara didalam kavum pleura (Hendra Arif, 2000).
Pneumotoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga pleura. Pada keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, sehingga paru-paru dapat leluasa mengembang terhadap rongga dada.
Pneumotoraks didefinisikan sebagai adanya udara atau gas dalam rongga pleura, yaitu, di ruang potensial antara pleura viseral dan parietal paru. Hasilnya adalah kolapsnya paru-paru pada sisi yang terkena. Udara bisa masuk ruang intrapleural melalui hubungan dari dinding dada (yaitu trauma) atau melalui parenkim paru-paru di pleura visceral.




II.       KLASIFIKASI PNEUMOTORAKS
Berdasarkan penyebabnya Pneumotoraks diklasifikasikan menjadi tiga yaitu:
1.                  Pneumotoraks spontan
Terjadi tanpa penyebab yang jelas. Pneumotoraks spontan primer terjadi jika pada penderita tidak ditemukan penyakit paru-paru. Pneumotoraks ini diduga disebabkan oleh pecahnya kantung kecil berisi udara di dalam paru-paru yang disebut bleb atau bulla. Penyakit ini paling sering menyerang pria berpostur tinggi-kurus, usia 20-40 tahun. Faktor predisposisinya adalah merokok sigaret dan riwayat keluarga dengan penyakit yang sama. Pneumotoraks spontan sekunder merupakan komplikasi dari penyakit paru-paru (misalnya penyakit paru obstruktif menahun, asma, fibrosis kistik, tuberkulosis, batuk rejan). 
2.                  Pneumotoraks traumatik
            Terjadi akibat cedera traumatik pada dada. Traumanya bisa bersifat menembus (luka tusuk, peluru) atau tumpul (benturan pada kecelakaan kendaraan bermotor).
Pneumotoraks juga bisa merupakan komplikasi dari tindakan medis tertentu
(misalnya torakosentesis).
3.                  Pneumotoraks karena tekanan
           Terjadi jika paru-paru mendapatkan tekanan berlebihan sehingga paru-  paru mengalami kollaps.
Tekanan yang berlebihan juga bisa menghalangi pemompaan darah oleh jantung secara efektif sehingga terjadi syok.    

 III.      ETIOLOGI PNEUMOTORAKS
Ø    Segala bentuk trauma dada
Ø    Spontan → sering kali di dapat penyakit dasar berupa :
ü  TBC paru
ü  Bronkhitis kronis
ü  Emfisema
ü  Kanker paru

IV.     PATOFISIOLOGI  PNEUMOTORAKS

Alveoli disangga oleh kapiler yang mempunyai dinding lemah dan mudah robek, apabial alveoli tersebut melebar dan tekanan didalam alveoli meningkat maka udara masuk dengan mudah menuju kejaringan peribronkovaskuler gerakan nafas yang kuat, infeksi dan obstruksi endrobronkial merupakan beberapa faktor presipitasi yang memudahkan terjadinya robekan selanjutnya udara yang terbebas dari alveoli dapat mengoyak jaringan fibrotik peribronkovaskuler robekan pleura kearah yang berlawanan dengan tilus akan menimbulkan pneumothoraks, sedangkan robekan yang mengarah ke tilus dapat menimbulkan pneumomediastinum dari mediastinum udara mencari jalan menuju ke atas, ke arah leher. Diantara organ – organ medistinum terdapat jairngan ikat yang longgar sehingga mudah ditembus oleh udara . Dari leher udar menyebar merata di bawah kulit leher dan dada yang akhirnya menimbulkan emfisema sub kutis yang dapat meluas ke arah perut hingga mencapai skretum.

















PATHWAY

Trauma dada
↓
Robekan pleura
↓
Terbukanya dinding dada
↓
Aliran udara ke rongga pleura meningkat
↓
Tekanan di rongga pleura lebih tinggi dari pada di atmosfer
↓
Terjadi kollaps paru
↓
Kompensasi untuk memenuhi oksigen ke seluruh tubuh berkurang
↓
Jantung bekerja lebih cepat
↓
Takikardi
↓
Napas menjadi pendek dan cepat
                                               

V.        MANIFESTASI KLINIS
Gejalanya berupa:
a.       Sesak napas
b.      Dada terasa sempit
c.       Gelisah
d.      Keringat dingin
e.       Sianosis
f.       Tampak sisi yang terserang menonjol dan tertinggal dalam pernapasan
g.      Perkusi hipersonor
h.      Pergeseran mediastinum ke sisi sehat
i.        Pola napas melemah pada bagian yang terkena
j.        Suara amforik
k.      Saat diperkusi terdengar hiperosa
l.        Nyeri pleura
m.    Hipotensi
n.      Pemeriksaan radiologi
o.      AGD : ↓ CO2, ↓ PO2, ↑ PCO2, ↑ pH


VI.       KOMPLIKASI
            1) Iga : Fraktur multiple dapatmenyebabkankelumpuhanrongga dada.
            2) Pleura, paru-paru, bronkhi : Hemopneumothoraks – emfisema pembedahan.
            3) Jantung : Tamponade jantung ; rupture jantung ; rupturototpapilar ; ruptur klepjantung.
            4) Pembuluh darah besar : Hematothoraks.
            5) Esofagus : Mediastinitis.
            6) Diafragma : Herniasivisera dan permukaan hati, limpa dan ginjal
            (Mowschenson, 1990).
           
VII.     PEMERIKSAAN PENUNJANG
ü  Foto Thoraks
ü  Laboratorium : AGD → hipoksia
ü  EKG
ü  Radiologi





VIII.    PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN DAN MEDIS
            Penatalaksanaan pneumothoraks tergantung dari jenis pneumothoraks antara lain  dengan melakukan :
1.                  Tindakan medis
Tindakan observasi, yaitu dengan mengukur tekanan intra pleura menghisap udara dan mengembangkan paru. Tindakan ini terutama ditunjukan pada pneumothoraks tertutup atau terbuka,sedangkan untuk pneumothoraks ventil tindakan utama yang harus dilakukan dekompresi tehadap tekanan intra pleura yang tinggi tersebut yaitu dengan membuat hubungan udara ke luar.
2.                  Tindakan dekompresi
                         Membuat hubungan rongga pleura dengan dunia luar dengan cara :
a.  Menusukan jarum melalui dinding dada terus masuk ke rongga pleura dengan demikian tekanan udara yang positif dirongga pleura akan berubah menjadi negatif kerena udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi negatif  karena udara yang keluar melalui jarum tersebut.
 b. Membuat hubungan dengan udara luar  melalui kontra ven il.
·         Dapat memakai infus set khususnya niddle
·         Jarum abbocath
·         Pipa  WSD ( Water Sealed Drainage )
Pipa khusus ( thoraks kateter ) steril, dimasukan kerongga pleura dengan perantara thoakar  atau dengan bantuan klem penjepit ( pean ). Pemasukan pipa plastik( thoraks kateter ) dapat juga dilakukan melalui celah yang telah dibuat dengan insisi kulit dari sela iga ke 4 pada baris aksila tengah atau pada garis aksila belakang. Swelain itu data pula melalui sela iga ke 2 dari garis klavikula tengah. Selanjutnya ujung sela plastik didada dan pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik lainya,posisi ujung pipa kaca yang berada dibotol sebaiknya berada 2 cm dibawahpermukaan air supaya gelembung udara dapat dengan mudah keluar melalui tekanan tersebut.
Penghisapan terus – menerus ( continous suction ).
Penghisapan dilakukan terus – menerus apabial tekanan intra pleura tetap positif, penghisapan ini dilakukan dengan memberi tekanan negatif sebesar 10 – 20 cm H2O dengan tujuan agar paru cepat mengembang dan segera teryjadi perlekatan antara pleura viseralis dan pleura parentalis.
Apabila paru telah mengembang maksimal dan tekanan intrapleura sudah negative lagi, drain drain dapat dicabut, sebelum dicabut drain ditutup dengan cara dijepit atau ditekuk selama 24 jam. Apabila paru tetap mengembang penuh, maka drain dicabut.

3.         Tindakan bedah
a.       Dengan pembukaan dinding thoraks melalui operasi, dan dicari lubang yang menyebabkan pneumothoraks dan dijahit.
b.      Pada pembedahan, apabila dijumpai adanya penebalan pleura yang menyebabkan paru tidak dapat mengembang, maka dilakukan pengelupasan atau dekortisasi.
c.       Dilakukan reseksi bila ada bagian paru yang mengalami robekan atau ada fistel dari paru yang rusak, sehingga paru tersebut tidak berfungsi dan tidak dapat dipertahankan kembali.
d.      Pilihan terakhir dilakukan pleurodesis dan perlekatan antara kedua pleura ditempat fistel.
 Pengobatan tambahan :
 Apabila terdapat proses lai diparu, maka pengobatan tambahan ditujukan terhadap penyebabnya ;
-       Terhadap proses tuberkolosis paru, diberi obat anti tuberkolosis.
-   Untuk mencegah obstipasi dan memperlancar defekasi, penderita diberi laksan ringan ringan, dengan tujuan supaya saat defekasi, penderita tidak dapat perlu mengejan terlalu keras.
-       Istirahat total
-   Penderita dilarang melakukan kerja keras ( mengangkat barang berat ), batuk, bersin terlalu keras, mengejan.

MASALAH KEPERAWATAN PADA PNEUMOTORAKS/HEMOTORAKS
Pola napas tak efektif b/d : Gangguan ekspansi paru sekunder terhadap: akumulasi cairan(hidrotoraks/hemotoraks) / udara(pneumotoraks) dalam rongga pleura, luka dada menghisap (sucking chest wound), flail chest
Kerusakan pertukaran gas b/d :
- Perubahan membran alveolar-kapiler, edema pulmonal, emboli paru
- Hipoventilasi, retensi CO2
Penurunan curah jantung b/d penurunan aliran darah balik vena kava ke jantung (penurunan preload)
Kekurangan volume cairan b/d kehilangan darah/cairan masif (hemotoraks)
Nyeri (akut) b/d cedera parenkim paru, fraktur iga
Ansietas/ketakutan b/d krisis situasional

Masalah Keperawatan Gastritis

2.1  Definisi 
                 GASTRITIS (dyspepsia/penyakit maag) adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya asam lambung yang berlebih atau meningkatnya asam lambung sehingga mengakibatkan imflamasi atau peradangan dari mukosa lambung seperti teriris atau nyeri pada ulu hati. Gejala yang terjadi yaitu perut terasa perih dan mulas. Mekanisme kerusakan lambung diakibatkan oleh ketidakseimbangan factor-faktor pencernaan seperti asam lambung dan pepsin dengan produksi mucus bikarbonat aliran darah.
                 Ada dua jenis penyakit gastritis yaitu:
2.1.1   Gastritis Akut
        Gatritis Akut (inflamasi mukosa lambung) paling sering diakibatkan oleh kesalahan diit, mis. makan terlalu banyak, terlalu cepat, makan makanan yang terlalu banyak bumbu atau makanan yang terinfeksi. Penyebab lain termasuk alcohol,  aspirin, refluks empedu atau terapi radiasi. Gastritis dapat juga menjadi tanda pertama infeksi sistemik akut. Bentuk gastritis akut yang lebih parah disebabkan oleh asam kuat atau alkali yang dapat menyebabkan mukosa menjadi gangrene atau perforasi. 
2.1.2   Gastritis Kronis
        Inflamasi lambung yang berkepanjangan yang disebabkan oleh ulkus lambung jinak maupun ganas atau bakteri Helicobacter pylori. Bakteri ini berkoloni pada tempat dengan asam lambung yang pekat. Gastritis kronis diklasifikasikan sebagai tipe A atau tipe B. Tipe A berkaitan dengan penyakit autoimunmis., anemia pernisiosa. Tipe A ini terjadi pada  fundus atau korpus lambung. Tipe B (H. pylori) mengenai antrum dan pylorus. Berkaitan dengan H.pylori. factor diit sepert iminum panas, bumbu penyedap, penggunaan obat, alcohol, merokok, atau refluksisi usus ke dalam lambung.

2.2 Etiologi
  1. a.      Gastritis adalah peradangan mukosa lambung 
  2. b.      Gastritis erosif akut : iritasi yang dapat sembuh sendiri yang disebabkan oleh iritan (misalnya NSAID, alkohol), stres fisiologik yang berat (misalnya operasi mayor, luka bakar, ventilator), atau trauma lokal (misal pipa NG). 
  3. c.       Gastritis kronis tipe A : peradangan lambung bagian proksimal sebagai akibat anemia pernisiosa, gastritis atrofik, aklorhidria, kelainan autoimun, atau radiasi. 
  4. d.      Gastritis kronis tipe B  : peradangan lambung bagian distal atau antrum sebagai akibat infeksi Helicobacter pylori. 
  5. e.       Gastritis refluks : peradangan sebagai akibat adanya getah empedu dan pankreas dalam lambung sekunder sebagai akibat tidak ada pilorus atau pilorus yang nonfungsional (misalnya setelah gastrektomi parsial). 
  6. f.       Gastritis hemoragik : gastritis dengan peradangan yang bermakna sebagai reaksi stres yang berat (mosalnya pasien ICU, hipoksia, iskemia, uremia).
2.3 Manifestasi Klinis
  1. a.      Nyeri terbakar di epigastrium atau rasa tidak enak yang bertambah berat                dengan makan 
  2. b.      Dispepsia 
  3. c.       Anoreksia 
  4. d.      Nausea / muntah 
  5. e.       Dapat terjadi pedarahan yang mengakibatkan hematemesis, melena. 
    1. A.    Gastritis Akut 
      1. Dapat terjadi ulserasi superficial dan mengarah pada hemoragi.
      2. Rasa tak nyaman pada abdomen dengan sakit kepala, kelesuan, mual, dan anoreksia. Mungkin terjadi muntah dan cegukan.
      3. Beberapa pasien menujukkan asimptomatik.
      4. Dapat terjadi kolik dan diare jika makanan yang mengiritasi tidak dimuntahkan tetapi malah mencapai usus.
      5. Pasien biasanya pulih kembali sekitar sehari,  meskipun nafsu makan mungkin akan hilang selama 2 sampai 3 hari.
B.   Gastritis Kronis
       Gastritis tipe A: pada dasarnya asimptomatik kecuali untuk gejala-gejala defisiensi vitamin B12.
  1. Gastritis tipe B: pasien mengeluh anoreksia, nyeri ulu hati setelah makan, bersendawa, rasa asam dalam mulut atau mual dan muntah.
Diagnosa keperawatan
  1. Defisit  volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat dan output cair  yang berlebih (mual dan muntah).
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  berhubungan dengan penurunan intake asupan gizi.
  3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
  4. Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi.

Senin, 19 Mei 2014

STOMA KOLOSTOMI



A.    PENGERTIAN STOMA KOLOSTOMI
Stoma adalah lubang buatan  pada abdomen untuk mengalirkan urine atau feses keluar dari tubuh.
PENGERTIAN KOLOSTOMI
1.         Sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses (M. Bouwhuizen, 1991)
2.         Pembuatan lubang sementara atau permanen dari usus besar melalui dinding perut untuk mengeluarkan feses (Randy, 1987)
3.         Lubang yang dibuat melalui dinding abdomen ke dalam kolon iliaka untuk mengeluarkan feses (Evelyn, 1991, Pearce, 1993)

B.     INDIKASI DIADAKANNYA STOMA KOLOSTOMI
Anda mungkin harus memiliki stoma jika pengobatan Anda melibatkan operasi untuk memotong semua atau sebagian dari usus atau saluran kemih. Kondisi yang memerlukan pengobatan jenis ini dapat termasuk:
-          penyakit radang usus seperti kolitis ulserativa atau penyakit Crohn
-          beberapa jenis kanker usus atau kandung kemih
-          cedera usus
-          masalah dengan ginjal, di mana air kencing tidak bisa keluar (jarang terjadi)

C.     JENIS-JENIS STOMA KOLOSTOMI
Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu, sehingga jenisnya ada beberapa macam tergantung dari kebutuhan pasien. Kolostomi dapat dibuat secara permanen maupun sementara.

1.      Kolostomi Permanen
Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien sudah tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal karena adanya keganasan, perlengketan, atau pengangkatan kolon sigmoid atau rectum sehingga tidak memungkinkan feses melalui anus. Kolostomi permanen biasanya berupa kolostomi single barrel ( dengan satu ujung lubang).

2.      Kolostomi temporer/ sementara
Pembuatan kolostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan seperti semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini mempunyai dua ujung lubang yang dikeluarkan melalui abdomen yang disebut kolostomi double barrel.
Lubang kolostomi yang muncul dipermukaan abdomen berupa mukosa kemerahan yang disebut STOMA. Pada minggu pertama post kolostomi biasanya masih terjadi pembengkakan sehingga stoma tampak membesar.
Pasien dengan pemasangan kolostomi biasanya disertai dengan tindakan laparotomi (pembukaan dinding abdomen). Luka laparotomi sangat beresiko mengalami infeksi karena letaknya bersebelahan dengan lubang stoma yang kemungkinan banyak mengeluarkan feses yang dapat mengkontaminasi luka laparotomi, perawat harus selalu memonitor kondisi luka dan segera merawat luka dan mengganti balutan jika balutan terkontaminasi feses.
Perawat harus segera mengganti kantong kolostomi jika kantong kolostomi telah terisi feses atau jika kontong kolostomi bocor dan feses cair mengotori abdomen. Perawat juga harus mempertahankan kulit pasien disekitar stoma tetap kering, hal ini penting untuk menghindari terjadinya iritasi pada kulit dan untuk kenyamanan pasien.
Kulit sekitar stoma yang mengalami iritasi harus segera diberi zink salep atau konsultasi pada dokter ahli jika pasien alergi terhadap perekat kantong kolostomi. Pada pasien yang alergi tersebut mungkin perlu dipikirkan untuk memodifikasi kantong kolostomi agar kulit pasien tidak teriritasi.

D.    KOMPLIKASI PADA STOMA KOLOSTOMI
1.      Obstruksi/ penyumbatan
Penyumbatan dapat disebabkan oleh adanya perlengketan usus atau adanya pengerasan feses yang sulit dikeluarkan. Untuk menghindari terjadinya sumbatan, pasien perlu dilakukan irigasi kolostomi secara teratur. Pada pasien dengan kolostomi permanen tindakan irigasi ini perlu diajarkan agar pasien dapat melakukannya sendiri di kamar mandi.
2.      Infeksi
Kontaminasi feses merupakan faktor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya infeksi pada luka sekitar stoma. Oleh karena itu pemantauan yang terus menerus sangat diperlukan dan tindakan segera mengganti balutan luka dan mengganti kantong kolstomi sangat bermakna untuk mencegah infeksi.
3.      Retraksi stoma/ mengkerut
Stoma mengalami pengikatan karena kantong kolostomi yang terlalu sempit dan juga karena adanya jaringan scar yang terbentuk disekitar stoma yang mengalami pengkerutan.
4.      Perdarahan stoma
5.      Prolaps pada stoma
Prolaps merupakan penonjolan mukosa colon 6 cm atau lebih dari permukaan kulit.Prolaps dapat dibagi 3 tingkatan: penonjolan seluruh dinding colon termasuk peritonium kadang-kadang sampat loop ilium.

Adanya strangulasi dan nekrosis pada usus yang mengalami penonjolan. Prolaps dapat terjadi oleh adanya faktor-faktor Peristaltik usus meningkat, fixasi usus tidak sempurna, mesocolon yang panjang, tekanan intra abdominal tinggi, dinding abdomen tipis dan tonusnya yang lemah serta kemungkinan omentum yang pendek dan tipis.
6.      Stenosis
Penyempitan dari lumen stoma.
7.      lritasi Kulit
Hal ini terutama pada colostomy sebelah kanan karena feces yang keluar mengandung enzim pencernaan yang bersifat iritatif. Juga terjadi karena cara membersihkan kulit yang kasar, salah memasang kantong dan tidak tahan akan plaster.
8.      Diare
Makin ke proksimal colostominya makin encer feces yang keluar. Pada sigmoid biasanya normal.
9.      Eviserasi
Dinding stoma terlepas dari dinding abdomen sehingga organ intra abdomen keluar melalui celah.
10.  Retraksi stoma/ mengkerut
Stoma mengalami pengikatan karena kantong kolostomi yang terlalu sempit dan juga karena adanya jaringan scar yang terbentuk disekitar stoma yang mengalami pengkerutan.
11.  Hernia Paracolostomy
12.  Retraksi : karena fixasi yang kurang sempurna
13.  Sepsis dan kematian
Untuk mencegah komplikasi, diperlukan colostomi dengan teknik benar serta perawatan pasca bedah yang baik, selain itu pre-operatif yang memadai.

E.     PERAWATAN STOMA KOLOSTOMI SEHARI-HARI
a.         Persiapan Alat dan Pasien
ü  Persiapan pasien
1.      Memberi penjelasan pada pasien tentang tujuan tindakan, dll
2.      Mengatur posisi tidur pasien (supinasi)
3.      Mengatur tempat tidur pasien dan lingkungan pasien (menutup gorden jendela, pintu, memasang penyekat tempat tidur, mempersilahkan keluarga untuk menunggu di luar kecuali jika diperlukan untuk belajar merawat kolostomi pasien
ü  Persiapan Alat
1.      Colostomy bag atau cincin tumit, bantalan kapas, kain berlubang, dan kain persegi empat
2.      Kapas sublimate/kapas basah, NaCl
3.      Kapas kering atau tissue
4.      1 pasang sarung tangan bersih
5.      Kantong untuk balutan kotor
6.      Baju ruangan / celemek
7.      Zink salep
8.      Perlak dan alasnya
9.      Plester dan gunting
10.  Bengkok
11.  Set ganti balut
b.        Prosedur Kerja
ü  Persiapan Klien
1.      Memberitahu klien
2.      Menyiapkan lingkungan klien
3.      Mengatur posisi tidur klien
ü  Prosedur Kerja
1.      Cuci tangan
2.      Gunakan sarung tangan
3.      Letakkan perlak dan alasnya di bagian kanan atau kiri pasien sesuai letak stoma
4.      Meletakkan bengkok di atas perlak dan didekatkan ke tubuh pasien
5.      Mengobservasi produk stoma (warna, konsistensi, dll)
6.      Membuka kantong kolostomi secara hati-hati dengan menggunakan pinset dan tangan kiri menekan kulit pasien
7.      Meletakan colostomy bag kotor dalam bengkok
8.      Melakukan observasi terhadap kulit dan stoma
9.      Membersihkan colostomy dan kulit disekitar colostomy dengan kapas sublimat / kapas hangat (air hangat)/ NaCl
10.  Mengeringkan kulit sekitar colostomy dengan sangat hati-hati menggunakan kassa steril
11.  Memberikan zink salep (tipis-tipis) jika terdapat iritasi pada kulit sekitar stoma
12.  Menyesuaikan lubang colostomy dengan stoma colostomy
13.  Menempelkan kantong kolostomi dengan posisi vertical / horizontal / miring sesuai kebutuhan pasien
14.  Memasukkan stoma melalui lubang kantong kolostomi
15.  Merekatkan / memasang colostomy bag dengan tepat tanpa udara didalamnya
16.  Merapikan klien dan lingkungannya
17.  Membereskan alat-alat dan membuang kotoran
18.  Melepas sarung tangan
19.  Mencuci tangan
20.  Evaluasi respon klien
21.  Dokumentasikan

F.      PERAWATAN STOMA KOLOSTOMI YANG MENGALAMI INFEKSI
a.      Persiapan Alat dan Pasien
ü  Persiapan pasien
1.      Memberi penjelasan pada pasien tentang tujuan tindakan, dll
2.      Mengatur posisi tidur pasien (supinasi)
3.      Mengatur tempat tidur pasien dan lingkungan pasien (menutup gorden jendela, pintu, memasang penyekat tempat tidur, mempersilahkan keluarga untuk menunggu di luar kecuali jika diperlukan untuk belajar merawat kolostomi pasien

ü  Persiapan Alat
1.      Colostomy bag atau cincin tumit, bantalan kapas, kain berlubang, dan kain persegi empat
2.      Kapas sublimate/kapas basah, NaCl
3.      Kapas kering atau tissue
4.      1 pasang sarung tangan bersih
5.      Kantong untuk balutan kotor
6.      Baju ruangan / celemek
7.      Antiseptik (Bethadine)
8.      Zink salep
9.      Perlak dan alasnya
10.  Plester dan gunting
11.  Obat desinfektan
12.  Bengkok
13.  Set ganti balut
c.         Prosedur Kerja
ü  Persiapan Klien
1.      Memberitahu klien
2.      Menyiapkan lingkungan klien
3.      Mengatur posisi tidur klien
ü  Prosedur Kerja
1.      Cuci tangan
2.      Gunakan sarung tangan
3.      Letakkan perlak dan alasnya di bagian kanan atau kiri pasien sesuai letak stoma
4.      Meletakkan bengkok di atas perlak dan didekatkan ke tubuh pasien produk stoma (warna, konsistensi, dll)
5.      Membuka kantong kolostomi secara hati-hati dengan menggunakan pinset dan tangan kiri menekan kulit pasien
6.      Meletakan colostomy bag kotor dalam bengkok
7.      Melakukan observasi terhadap kulit dan stoma
8.      Dengan kassa basah lakukan penekanan pada luka agar bila ada pus dalam luka dapat keluar. Penekanan dilakukan karena meskipun dari luar luka operasi tampak kering, namun sering terdapat pus di dalamnya.
9.      Membersihkan colostomy dan kulit disekitar colostomy dengan kapas sublimat / kapas hangat (air hangat)/ NaCl
10.  Mengeringkan kulit sekitar colostomy dengan sangat hati-hati menggunakan kassa steril
11.  Memberikan antiseptik (homolok)
12.  Menyesuaikan lubang colostomy dengan stoma colostomy
13.  Menempelkan kantong kolostomi dengan posisi vertical / horizontal / miring sesuai kebutuhan pasien
14.  Memasukkan stoma melalui lubang kantong kolostomi
15.  Merekatkan/memasang colostomy bag dengan tepat tanpa udara didalamnya
16.  Merapikan klien dan lingkungannya
17.  Membereskan alat-alat dan membuang kotoran
18.  Melepas sarung tangan
19.  Mencuci tangan
20.  Evaluasi respon klien

21.  Dokumentasikan